Cara Memahami Globalilasi Politik Dan Ekonomi Nasional

Cara Memahami Globalilasi Politik Dan Ekonomi Nasional

masrofiq.com
12/09/19


masrofiq.com - Tidak dapat dipungkiri bahwa pertumbuhan ekonomi nasional dan kesejahteraan rakyat Indonesia sangat dipengaruhi politik global. Dari hal ekonomi global mampu menciptakan kekuatan-kekuatan geo-ekonomi ekstra yang mampu mendekte kebijakan-kebijakan ekonomi nasional hingga berpengaruh besar pada keberlangsungan hidup masyarakat Indonesia.

Beban politik global tersebut kedepan masih terasa berat hingga kebijakan nasional tidak mampu lagi mengantar kekuatan-kekuatan ekonomi eksternal itu. Karena jika tidak dibarengi dengan kebijakan-kebijakan nasioanal yang mampu menjaga stabilitas ekonomi global tetunya ekonomi kita akan semakin merosot dan melemah.

Untuk memahami politik global, Baylis (1998) menyebutkan ada tiga perspektif teori utama yang bersama-sama digunakan untuk memahami politik global sekarang ini.

Pertama Realisme, penekanannya pada kekuatan hubungan antara negara dengan negara. Kedua Liberalisme, yang penekanannya pada interaksi negara dengan aktor-aktor non negara. Ketiga disebut World system theory yang memfokuskan pada patokan-patokan ekonomi dunia.

Tiga teori tersebut, masing-masing memiliki perspektif yang berbeda dalam dalam memandang globalisasi. Kelompok realisme memandang globalisasi tidak dapat mengubah secara signifikan gambaran atas dunia politik. Perkembangan interkoneksitas dibidang ekonomi dan kemasyarakatan justru membuat yang bersangkutan malah menjadi semakin mandiri terhadap yang lain.

Globalisasi bagi kaum realis diakui memiliki pengaruh terhadap kehidupan sosial, ekonomi dan budaya, tetapi tidak dapat mengatasi sistem politik internasional negara-negara. Sedangkan kelompok liberalis justru melihat globalisasi dalam cara yang lain. Mereka melihat globalisasi adalah produk dari perjalanan panjang transformasi dunia politik.

Berbeda dengan kelompok realis yang melihat negara sebagai penentu utama. Kaum liberalis berpendapat bahwa era globalisasi penentu utama adalah aktor-aktor non-negara, yakni negara tidak lagi menjadi sentral. Kelompok ini sangat tertarik pada revolusi teknologi dan komunikasi sebagaimana terpresentasikan dalam globalisasi. Sedangkan bagi kaum teoritis world-system memandang globalisasi sebagai a bit of a sham. Tidak ada sesuatu yang baru, globalisasi sesungguhnya hanyalah perkembangan kapitalisme internasional.

Secara kualitatif globalisasi sama sekali tidak mencirikan dunia politik. Semua itu adalah perspektif untuk memahami politik global sekarang ini, setidaknya ada tiga perspektif teori yang berkembang dalam globalisasi politik sebagaimana dijelaskan diatas.

Selanjutnya ada beberapa masalah tentang globalisasi politik, yang mana transformasi ekonomi mampu mengkreasikan dunia politik baru, negara tidak lagi dilihat sebagai unit yang tertutup dan negara tidak lagi dapat mengontrol ekonominya karena dunia ekonomi sangat interdependen.

Selanjutnya globalisasi yang ditandai oleh revolusi komunikasi, dimana sekarang orang tinggal dalam dunia yang terbuka, informasi begitu cepat menyebar dan sangat mudah diakses oleh orang lain. Suatu peristiwa yang terjadi pada satu lokasi akan segera dimengerti orang lain dalam lokasi yang berbeda. Komunikasi elektronika telah merubah konsep kita tentang kelompok sosial dimana kita bekerja dan hidup. Ide-ide tentang ruang geografis dan waktu kronologis menjadi akan sangat ditentukan oleh kecepatan komunikasi dan media modern.

Dunia yang semakin menjadi lebih homogen, manusia sekarang tinggal dalam apa yang disebut dengan a global culture dan globalisasi memunculkan a global policy, dengan perkembangan transnasional sosial dan politik, globalisasi akan mengembangkan kebudayaan kosmopolit yang akhirnya nanti akan memunculkan a risk culture yang harus ditanggung oleh umat manusia.

Manusia dalam pengalamannya mengatur kehidupan politiknya akan menghasilkan berbagai sistem seperti: sistem kehidupan yang mengandalkan kekuasaan politik yang didominasi oleh para aktor yang melakukan tindakan atas nama negara dan bekerja berdasarkan ketentuan nilai statis (mengutamakan peranan negara) yang konservatif.

Selanjutnya adalah sistem yang mengutamakan kekuatan ekonomi yang dijalankan oleh para pengusaha berdasarkan pertimbangan hukum permintaan dan penawaran dalam pasar. Para aktor ini umumnya lebih menekankan nilai liberal, yaitu lebih suka bekerja tanpa campur tangan (intervensi) dari pemerintah. Kalau toh intervensi itu diperlukan umumnya untuk memperbaiki kondisi bagi akumulasi kekuatan ekonomi mereka.

Sistem terakhir adalah tatanan yang memungkinkan rakyat (komunitas lokal) untuk menerapkan mekanisme kekuatan mereka berdasarkan tuntutan ideologis populis. Tetapi hal ini tidak dimungkinkan digunakan, karena memang komunitas lokal cenderung dilupakan dan jauh dari perhatian penguasa.